Update

8/recent/ticker-posts

Ya..Humaira

 



 Dr.H.Mustakim, M.Si

(Penceramah, Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya) 

Mungkin cukup banyak manusia di dunia ini yang memiliki nama humaira, namun humaira dalam tulisan ini bukanlah ditujukan pada salahsatu nama orang tersebut, kecuali penulis lekatkan pada satu wanita yang pernah dipanggil oleh Nabi Muhammad SAW dengan nama ini, yakni Aisyah, istri Rasulullah SAW sendiri.

Humaira berasal dari kata arab yang memiliki arti kemerahan atau putih campur merah atau lebih tepatnya maksud Rasulullah memanggil Aisyah dengan sebutan ini adalah “yang pipinya putih kemerah-merahan”. Mungkin julukan ini identik dengan kata “ranum”, yang biasa digunakan orang Indonesia saat menjuluki wanita yang pipinya mulus, putih, halus dan kemerah-kemerahan. Kata ranum sendiri sebenarnya untuk julukan buah yang mulai masak karena warnanya mulai menguning kemerah-merahan.

Dapatlah dipahami kenapa wanita muda saat ini, jika bersolek, salahsatunya adalah mengkuas tipis pipinya dengan warna merah agar terlihat ranum, atau terlihat seperti Aisyah istri Rasulullah yang humaira itu. Bedanya, ranum atau humaira-nya Aisyah sangat asli 100 persen tanpa dioles sedikitpun dengan bahan kecantikan, sehingga Rasulullah berani menyebutnya dengan kata humaira karena kehumaira-annya benar-benar melekat pada wajah/pipi Sayidah Aisyah. Soalnya jika humaira-nya Aisyah hasil polesan bahan kecantikan, masa sih Rasulullah harus memanggil dengan kata lain yang berbeda disaat bahan kecantikannya sudah luntur dari pipi istrinya?

Inilah mungkin salahsatu penyebab kenapa para suami saat ini merasa berat sekali memanggil istrinya dengan sebutan humaira, meskipun si istri sudah berdandan, bersolek cantik atau bahkan sudah memerahi pipinya dengan bahan kecantikan? Alasannya, humaira-nya tidak asli! Si suami mungkin akan bingung karena setelah ia panggil istrinya dengan kata humaira saat istri usai bersolek, ia harus panggil dengan sebutan apalagi jika melihat istrinya baru bangun tidur dan belum sempat bersolek?

Tapi jangan salah paham. Sebutan humaira yang dilontarkan Rasulullah kepada Aisyah sesungguhnya adalah simbol keharmonisan keluarga. Panggilan ini merupakan salahsatu ajaran yang Rasulullah contohkan untuk para suami agar para suami bisa dan pandai-pandai memuji, menyanjung atau setidaknya menghargai sosok istri yang telah dinikahinya.

Berbagai artikel tentang wanita menyebutkan bahwa salahsatu watak wanita pada umumnya adalah lebih banyak atau dominan meggunakan perasaannya daripada logikanya. Sementara kaum lelaki sebaliknya lebih dominan menggunakan logika daripada perasaannya. Karena lebih dominan menggunakan perasaan, maka sangat wajar dan pas jika wanita (terutama istri kita) perlu selalu dijaga perasaannya. Sementara lelaki/suami yang terbiasa menggunakan logika itu, menurut penulis, adalah lelaki yang sangat hebat dan luar biasa ketika terhadap istrinya mau menggunakan perasaannya. Dengan sikap seperti ini, menunjukkan bahwa si suami tidak egois karena tidak selalu menjadi sosok yang sok ahli logika/pikir, juga si suami macam ini adalah suami yang benar-benar peduli dan perhatian terhadap istrinya.

Ada satu hadits Nabi yang menyebutkan tentang keberadaan istri sbb: “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut mengisyaratkan agar seorang suami memahami bahwa keberadaan istri tercipta dari tulang rusuk yang bentuknya bengkok. Kondisi tulang rusuk yang bengkok dan rawan patah, sesungguhnya mengingatkan para lelaki/suami untuk tetap menggunakan logika dan perasaannya sekaligus, agar jika tulang itu diluruskan haruslah dengan hati-hati, pelan-pelan, dan penuh perasaan agar tidak patah. Upaya pelurusan sebagai tindakan logika, cara yang lembut, hati-hati adalah tindakan perasaan.

Harus diakui oleh kaum lelaki (apalagi para pemimpin yang punya banyak jabatan), terkadang kita begitu peduli/perhatian terhadap orang lain karena kedudukan dan peranan kita di tengah publik namun kita kurang begitu peduli terhadap istri atau bahkan terhadap keluarga (istri dan anak-anak kita) sendiri. Maka tidak heran banyak kaum lelaki sukses di tengah publik karena imbas dari bentuk kepeduliannya, tetapi gagal dalam keluarga karena imbas dari kekurang/ketidak-peduliannya.

Satu kata humaira yang Rasulullah ajarkan kepada kita sesungguhnya merupakan ilmu dan pelajaran yang sangat berharga dan luas sebagai wujud kepedulian/perhatian seorang suami  terhadap istri dan/atau keluarganya. Ketika konteksnya adalah bentuk kepedulian/perhatian, tentu saja terhadap istri kita tidak harus memanggilnya dengan kata humaira seperti yang Rasulullah lakukan terhadap Aisyah, karena tidak semua istri kita wajah dan pipinya seperti Aisyah yang ya…humaira itu.

Apa jadinya, jika seorang suami paksakan diri menyebut istrinya dengan kata humaira padahal kondisi istrinya tidak humaira? Bagaimana jika kondisi wajah/pipi istri kita (maaf bukan maksud menghina, tapi hanya sekedar contoh) kulitnya hitam atau berjerawat atau cacat dan sejenisnya, lalu kita panggil dia dengan panggilan Ya….Humaira..!! Atau Wahai istriku yang pipinya kemerah-merahan..!!?? Saya khawatir, bukannya si istri  malah senang, bangga atau tersanjung, masih syukurlah kalau belanga (panci) tidak melayang ke wajah suami karena si istri merasa tersinggung dan marah sebab merasa dihina dengan kalimat ya..humaira tersebut.

Intinya, sebagai seorang suami, berikan perhatian dan kepedulian terhadap istri. Sebagai seorang ayah (jika sudah memiliki anak), berikan perhatian dan kepedulian terhadap istri dan anak-anaknya. Bentuk perhatian yang paling pas adalah yang benar-benar mereka butuhkan. Jika istri kita lagi suntuk bekerja di rumah, segeralah si suami mengambil peranan, turut ambil bagian (meskipun sedikit) dari pekerjaan yang dilakukan istri, misalnya sesekali kita menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, ngurus air, dll.

Jika si istri selesai berpakaian usai mandi sore, meskipun belum/tidak bersolek menggunakan cermin, katakanlah padanya “wah, mama memang luar biasa, meskipun tidak berdandan, mama terlihat segar dan cantik!” Apalagi jika si istri selesai mandi lalu berdandan dan memoles wajahnya, pujilah sebisanya yang bisa menyenangkan hatinya. Kalau memang saat itu pipi istri anda agak kemerah-merahan(meskipun dipoles) sehingga mirip Aisyah, bagus dan tidak salah kok jika anda menyebutnya ya…humaira!

Atau, kalau anda merupakan tipe suami yang dingin, tidak bisa menyanjung dan memuji istri, yang pasti perhatikanlah semua kebutuhan dan keperluannya, termasuk keperluan untuk membersihkan badan, untuk berdandan dan mempercantik dirinya. Karena dandannya istri, pada dasarnya, niatnya itu hanya untuk anda seorang, suaminya.*