Dr.H.Mustakim, M.Si
(Penceramah,
Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya)
Mungkin
cukup banyak manusia di dunia ini yang memiliki nama humaira, namun humaira
dalam tulisan ini bukanlah ditujukan pada salahsatu nama orang tersebut, kecuali
penulis lekatkan pada satu wanita yang pernah dipanggil oleh Nabi Muhammad SAW
dengan nama ini, yakni Aisyah, istri Rasulullah SAW sendiri.
Humaira
berasal dari kata arab yang memiliki arti kemerahan atau putih campur merah
atau lebih tepatnya maksud Rasulullah memanggil Aisyah dengan sebutan ini
adalah “yang pipinya putih kemerah-merahan”. Mungkin julukan ini identik dengan
kata “ranum”, yang biasa digunakan orang Indonesia saat menjuluki wanita yang
pipinya mulus, putih, halus dan kemerah-kemerahan. Kata ranum sendiri
sebenarnya untuk julukan buah yang mulai masak karena warnanya mulai menguning
kemerah-merahan.
Dapatlah
dipahami kenapa wanita muda saat ini, jika bersolek, salahsatunya adalah
mengkuas tipis pipinya dengan warna merah agar terlihat ranum, atau terlihat
seperti Aisyah istri Rasulullah yang humaira itu. Bedanya, ranum atau
humaira-nya Aisyah sangat asli 100 persen tanpa dioles sedikitpun dengan bahan
kecantikan, sehingga Rasulullah berani menyebutnya dengan kata humaira karena
kehumaira-annya benar-benar melekat pada wajah/pipi Sayidah Aisyah. Soalnya
jika humaira-nya Aisyah hasil polesan bahan kecantikan, masa sih Rasulullah
harus memanggil dengan kata lain yang berbeda disaat bahan kecantikannya sudah
luntur dari pipi istrinya?
Inilah
mungkin salahsatu penyebab kenapa para suami saat ini merasa berat sekali
memanggil istrinya dengan sebutan humaira, meskipun si istri sudah berdandan,
bersolek cantik atau bahkan sudah memerahi pipinya dengan bahan kecantikan?
Alasannya, humaira-nya tidak asli! Si suami mungkin akan bingung karena setelah
ia panggil istrinya dengan kata humaira saat istri usai bersolek, ia harus
panggil dengan sebutan apalagi jika melihat istrinya baru bangun tidur dan
belum sempat bersolek?
Tapi
jangan salah paham. Sebutan humaira yang dilontarkan Rasulullah kepada Aisyah
sesungguhnya adalah simbol keharmonisan keluarga. Panggilan ini merupakan
salahsatu ajaran yang Rasulullah contohkan untuk para suami agar para suami
bisa dan pandai-pandai memuji, menyanjung atau setidaknya menghargai sosok
istri yang telah dinikahinya.
Berbagai
artikel tentang wanita menyebutkan bahwa salahsatu watak wanita pada umumnya
adalah lebih banyak atau dominan meggunakan perasaannya daripada logikanya.
Sementara kaum lelaki sebaliknya lebih dominan menggunakan logika daripada
perasaannya. Karena lebih dominan menggunakan perasaan, maka sangat wajar dan
pas jika wanita (terutama istri kita) perlu selalu dijaga perasaannya.
Sementara lelaki/suami yang terbiasa menggunakan logika itu, menurut penulis,
adalah lelaki yang sangat hebat dan luar biasa ketika terhadap istrinya mau
menggunakan perasaannya. Dengan sikap seperti ini, menunjukkan bahwa si suami
tidak egois karena tidak selalu menjadi sosok yang sok ahli logika/pikir, juga
si suami macam ini adalah suami yang benar-benar peduli dan perhatian terhadap
istrinya.
Ada
satu hadits Nabi yang menyebutkan tentang keberadaan istri sbb: “Sesungguhnya
wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu
jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa
bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa
untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”
(HR. Muslim)
Hadits
tersebut mengisyaratkan agar seorang suami memahami bahwa keberadaan istri
tercipta dari tulang rusuk yang bentuknya bengkok. Kondisi tulang rusuk yang
bengkok dan rawan patah, sesungguhnya mengingatkan para lelaki/suami untuk
tetap menggunakan logika dan perasaannya sekaligus, agar jika tulang itu
diluruskan haruslah dengan hati-hati, pelan-pelan, dan penuh perasaan agar
tidak patah. Upaya pelurusan sebagai tindakan logika, cara yang lembut,
hati-hati adalah tindakan perasaan.
Harus
diakui oleh kaum lelaki (apalagi para pemimpin yang punya banyak jabatan),
terkadang kita begitu peduli/perhatian terhadap orang lain karena kedudukan dan
peranan kita di tengah publik namun kita kurang begitu peduli terhadap istri
atau bahkan terhadap keluarga (istri dan anak-anak kita) sendiri. Maka tidak
heran banyak kaum lelaki sukses di tengah publik karena imbas dari bentuk
kepeduliannya, tetapi gagal dalam keluarga karena imbas dari
kekurang/ketidak-peduliannya.
Satu
kata humaira yang Rasulullah ajarkan kepada kita sesungguhnya merupakan ilmu dan
pelajaran yang sangat berharga dan luas sebagai wujud kepedulian/perhatian
seorang suami terhadap istri dan/atau
keluarganya. Ketika konteksnya adalah bentuk kepedulian/perhatian, tentu saja
terhadap istri kita tidak harus memanggilnya dengan kata humaira seperti yang
Rasulullah lakukan terhadap Aisyah, karena tidak semua istri kita wajah dan
pipinya seperti Aisyah yang ya…humaira itu.
Apa
jadinya, jika seorang suami paksakan diri menyebut istrinya dengan kata humaira
padahal kondisi istrinya tidak humaira? Bagaimana jika kondisi wajah/pipi istri
kita (maaf bukan maksud menghina, tapi hanya sekedar contoh) kulitnya hitam
atau berjerawat atau cacat dan sejenisnya, lalu kita panggil dia dengan
panggilan Ya….Humaira..!! Atau Wahai istriku yang pipinya kemerah-merahan..!!??
Saya khawatir, bukannya si istri malah
senang, bangga atau tersanjung, masih syukurlah kalau belanga (panci) tidak
melayang ke wajah suami karena si istri merasa tersinggung dan marah sebab
merasa dihina dengan kalimat ya..humaira tersebut.
Intinya,
sebagai seorang suami, berikan perhatian dan kepedulian terhadap istri. Sebagai
seorang ayah (jika sudah memiliki anak), berikan perhatian dan kepedulian
terhadap istri dan anak-anaknya. Bentuk perhatian yang paling pas adalah yang
benar-benar mereka butuhkan. Jika istri kita lagi suntuk bekerja di rumah,
segeralah si suami mengambil peranan, turut ambil bagian (meskipun sedikit)
dari pekerjaan yang dilakukan istri, misalnya sesekali kita menyapu lantai,
membersihkan kaca jendela, ngurus air, dll.
Jika
si istri selesai berpakaian usai mandi sore, meskipun belum/tidak bersolek
menggunakan cermin, katakanlah padanya “wah, mama memang luar biasa, meskipun
tidak berdandan, mama terlihat segar dan cantik!” Apalagi jika si istri selesai
mandi lalu berdandan dan memoles wajahnya, pujilah sebisanya yang bisa
menyenangkan hatinya. Kalau memang saat itu pipi istri anda agak
kemerah-merahan(meskipun dipoles) sehingga mirip Aisyah, bagus dan tidak salah
kok jika anda menyebutnya ya…humaira!
Atau,
kalau anda merupakan tipe suami yang dingin, tidak bisa menyanjung dan memuji
istri, yang pasti perhatikanlah semua kebutuhan dan keperluannya, termasuk
keperluan untuk membersihkan badan, untuk berdandan dan mempercantik dirinya.
Karena dandannya istri, pada dasarnya, niatnya itu hanya untuk anda seorang,
suaminya.*
