Update

8/recent/ticker-posts

Manusia Pertama dan Perilaku Penduduk Dunia

 


Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si

(Penceramah, Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya)

Ketika Allah SWT mengabarkan hendak menciptakan manusia pertama, terjadi dialog atau tepatnya ada protes dari malaikat yang menyangsikan eksistensi dan keberadaan manusia pertama tersebut yang oleh Allah SWT bakal dijadikan sebagai khalifah di muka bumi. Dialog tersebut terekam dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 30 yang artinya sebagai berikut:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman(menjawab), ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.”

Kesangsian atau kekhawatiran malaikat dengan munculnya manusia tersebut adalah bakal ada kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi. Kekhawatiran itupun terbukti. Dalam sejarah umat manusia, baru saja jumlah manusia masih dalam hitungan jari, pertumpahan darah benar-benar nyata adanya, yakni terjadinya pembunuhan Habil oleh Kabil yang keduanya merupakan anak Nabi Adam sebagai manusia pertama. Boleh dikatakan Habil dan Kabil adalah “generasi pertama” anak cucu/Bani Adam.

Generasi berikutnya, sebagaimana kita saksikan dari lembar-lembar sejarah, pertumpahan darah atau peperangan  yang terjadi antar umat manusia ini justru seakan menjadi “jalan hidup”. Yang paling hebat dalam menumpahkan darah bahkan dianggap sebagai sosok mulia karena ia secara otomatis akan menjadi pemimpin dalam kelompok atau bangsanya. Hal itu nyata terlihat dalam hampir setiap sejarah kerajaan manusia. Meskipun seseorang sudah menjadi raja, akan dapat diturunkan tahtanya jika diserang oleh kerajaan/kelompok lain dan kalah dalam peperangan tersebut. Pemimpin perang dari bangsa/kelompok yang menang pasti mengambil alih kekuasaan setelah sang raja bertekuk lutut, menyerah atau mati dalam peperangan.

Pengaruh kehidupan manusia yang seperti itu (zaman peperangan atau zaman kerajaan yang selalu berperang), sangat berpengaruh terhadap obsesi dan cita-cita generasi-generasi berikutnya. Penulis yakin, generasi berikutnya (terutama kaum lelaki) sebagian besar memiliki cita-cita menjadi panglima perang yang hebat atau jago bekelahi. Bahkan, bukan hanya kaum lelaki, beberapa sejarah dunia mencatat, hampir di setiap negara punya panglima perang perempuan.

Misalnya, di Jepang sejak awal 200 Masehi. Sudah ada samurai wanita  yang dikenal sebagai Onna-Bugeisha. Para wanita samurai itu dilatih dalam seni bela diri dan strategi, juga bertempur bersama samurai (laki-laki) untuk mempertahankan rumah, keluarga, dan kehormatan mereka. Di Nigeria, ada sosok Amina (lahir abad 16 M) yang merupakan seorang prajurit, komandan militer, dan penguasa Kerajaan Hausa Zazzau (sekarang Zaria). Perempuan tangguh tersebut merupakan anak tertua dari penguasa saat itu, yakni Raja Bakwa Turunku. Ada juga kisah Tomyris, tokoh wanita dari suku Massagetae yang pernah melawan Persia dan berhasil memotong kepala Cyrus dengan cara mencelupkan wajahnya pada sebuah wadah yang berisi darah manusia. Di Indonesia, kita kenal Cut Nya’Dien, panglima perang wanita dari Aceh, dan banyak tokoh wanita lainnya yang juga jago-jago perang.

Namun demikian, protes malaikat oleh Allah SWT dijawab dengan kalimat “….sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Jawaban ini seakan mengandung dua pengertian. Pertama, apa yang dikhawatirkan malaikat memang benar dan Allah sudah tahu tentang hal itu, namun tentu saja Allah tidak khawatir apalagi cemas seperti malaikat. Kedua, ada “rahasia tertentu” dibalik penciptaan manusia yang kemudian berkembang biak menjadi penduduk dunia ini.

Al-Baghowi, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil (sebagaimana diulas al-hafiz Kurniawan dalam https://uninus.ac.id/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-30/), menceritakan bahwa yang dimaksud oleh malaikat dengan “mereka” adalah penghuni bumi sebelumnya. Allah menciptakan langit, bumi, malaikat, dan jin. Lalu Allah menempatkan malaikat di langit dan jin di bumi. Mereka kemudian menyebar dan menyembah Allah dalam masa yang lama di bumi. Tetapi penyakit kedengkian dan tindakan melewati batas menjangkiti mereka. Mereka berbuat kerusakan dan membunuh. Allah lalu mengutus satu pasukan malaikat yang disebut “jin” karena mereka adalah penjaga surga. Pemimpin dan pemuka mereka yang paling pandai adalah iblis.

Sepasukan malaikat yang bernama “jin” ini turun ke bumi. Mereka mengusir bangsa jin ke lembah-lembah pegunungan dan pulau-pulau di tengah laut. Mereka kemudian menjadi penghuni bumi. Mereka lalu turun ke bumi. Allah memberikan keringanan ibadah untuk mereka. Allah memberikan kekuasaan bumi, langit dunia, dan penjagaan surga. Iblis kadang menyembah Allah di bumi, kadang di langit, dan kadang di surga. Lalu penyakit ujub masuk ke dalam dirinya.

“Tidaklah Allah memberikan kekuasaan ini kecuali karena aku adalah malaikat paling mulia,” kata Iblis dalam hatinya.

“(Aku ingin menjadikan) menciptakan (khalifah) pengganti kamu (di bumi) dan mengangkatmu ke langit,” kata Allah kepada Iblis dan pasukannya. Mendengar rencana Allah, mereka tampak tidak suka. Mereka menjadi malaikat yang paling rendah kehambaannya. Khalifah yang dimaksud di sini adalah Adam. Ia disebut khalifah karena ia adalah pengganti jin yang datang sebelumnya. Ada yang menafsirkan, Adam disebut khalifah karena ia juga akan digantikan oleh orang lain. Yang jelas, Adam merupakan khalifah Allah di bumi untuk menegakkan ketentuan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

“(Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak) melalui maksiat (dan menumpahkan darah) tanpa hak sebagaimana dilakukan oleh bangsa jin (di sana?)” Sanggahan malaikat didasarkan pada analogi atau qiyas yang sudah ada. Tanpa analogi, dapat dipahami bahwa mereka tidak mengetahui hal ghaib (masa depan). Adapun istilah “tasbih” dalam Al-Qur’an, kata sahabat Ibnu Abbas RA, harus diartikan sebagai ibadah shalat. (“Padahal, kami menyucikan nama-Mu) dengan bersuci. Ada ulama menafsirkan, “Kami menyucikan diri kami melalui ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu.”

Sanggahan malaikat pada Surat Al-Baqarah ayat 30 ini, kata Imam Al-Baghowi mengutip sebagian ulama tafsir, bukan bermakna penentangan atau ujub atas amal mereka, tetapi sanggahan heran dan mencari hikmah jawaban di balik rencana Allah itu. “(Allah berkata, ‘Sungguh, Aku) Allah (mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,’)” yaitu kemaslahatan di dalamnya. Aku mengetahui bahwa di tengah keturunan Adam ada dari mereka yang berbuat taat dan menyembah-Ku, yaitu para nabi, para wali, dan para ulama.

Sebagian ulama mengatakan, “Aku mengetahui bahwa di tengah kalian ada yang berbuat durhaka kepada-Ku, yaitu Iblis.” Sebagian ulama lainnya, kata Imam Al-Baghowi, mengatakan, “Aku mengetahui bahwa manusia kelak akan berdosa dan Aku mengampuni mereka.”

Dapat disaksikan dalam keseharian penduduk dunia hingga saat ini, perilaku “membuat kerusakan dan menumpahkan darah”, sejak anak adam periode pertama (Kabil dan Habil) masih terus berlangsung. Sumber pokok kerusakan dan pertumpahan darah tersebut tidak lain adalah hawa nafsu yang bercokol di dalam diri manusia, dan perangsangnya antara lain wanita, tahta dan harta. Kiranya penduduk dunia menyadari akan hal itu sehingga akan lebih tenang lagi dalam menjalani kehidupan di dunia dengan pengendalian hawa nafsunya. Insya Allah “rahasia” yang Allah sembunyikan dari para malaikat dalam penciptaan umat manusia sesungguhnya adalah “kebaikan”. Amin.*