Oleh:
Dr. H. Mustakim, M.Si
(Penceramah,
Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya)
Ketika
Allah SWT mengabarkan hendak menciptakan manusia pertama, terjadi dialog atau
tepatnya ada protes dari malaikat yang menyangsikan eksistensi dan keberadaan
manusia pertama tersebut yang oleh Allah SWT bakal dijadikan sebagai khalifah
di muka bumi. Dialog tersebut terekam dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 30
yang artinya sebagai berikut:
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman(menjawab), ‘Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.”
Kesangsian atau kekhawatiran
malaikat dengan munculnya manusia tersebut adalah bakal ada kerusakan dan
pertumpahan darah di muka bumi. Kekhawatiran itupun terbukti. Dalam sejarah
umat manusia, baru saja jumlah manusia masih dalam hitungan jari, pertumpahan
darah benar-benar nyata adanya, yakni terjadinya pembunuhan Habil oleh Kabil
yang keduanya merupakan anak Nabi Adam sebagai manusia pertama. Boleh dikatakan
Habil dan Kabil adalah “generasi pertama” anak cucu/Bani Adam.
Generasi berikutnya, sebagaimana
kita saksikan dari lembar-lembar sejarah, pertumpahan darah atau
peperangan yang terjadi antar umat manusia
ini justru seakan menjadi “jalan hidup”. Yang paling hebat dalam menumpahkan
darah bahkan dianggap sebagai sosok mulia karena ia secara otomatis akan
menjadi pemimpin dalam kelompok atau bangsanya. Hal itu nyata terlihat dalam
hampir setiap sejarah kerajaan manusia. Meskipun seseorang sudah menjadi raja,
akan dapat diturunkan tahtanya jika diserang oleh kerajaan/kelompok lain dan kalah
dalam peperangan tersebut. Pemimpin perang dari bangsa/kelompok yang menang
pasti mengambil alih kekuasaan setelah sang raja bertekuk lutut, menyerah atau
mati dalam peperangan.
Pengaruh kehidupan manusia yang
seperti itu (zaman peperangan atau zaman kerajaan yang selalu berperang),
sangat berpengaruh terhadap obsesi dan cita-cita generasi-generasi berikutnya.
Penulis yakin, generasi berikutnya (terutama kaum lelaki) sebagian besar
memiliki cita-cita menjadi panglima perang yang hebat atau jago bekelahi.
Bahkan, bukan hanya kaum lelaki, beberapa sejarah dunia mencatat, hampir di
setiap negara punya panglima perang perempuan.
Misalnya, di Jepang sejak
awal 200 Masehi. Sudah ada samurai wanita
yang dikenal sebagai Onna-Bugeisha.
Para wanita samurai itu dilatih dalam seni bela diri dan strategi, juga
bertempur bersama samurai (laki-laki) untuk mempertahankan rumah, keluarga, dan
kehormatan mereka. Di Nigeria, ada sosok Amina (lahir abad 16 M) yang merupakan seorang prajurit, komandan militer, dan penguasa
Kerajaan Hausa Zazzau (sekarang Zaria). Perempuan
tangguh tersebut merupakan anak tertua dari penguasa saat itu, yakni Raja Bakwa
Turunku. Ada juga kisah Tomyris, tokoh wanita dari suku Massagetae yang pernah
melawan Persia dan berhasil memotong kepala Cyrus dengan cara mencelupkan
wajahnya pada sebuah wadah yang berisi darah manusia. Di Indonesia, kita kenal
Cut Nya’Dien, panglima perang wanita dari Aceh, dan banyak tokoh wanita lainnya
yang juga jago-jago perang.
Namun demikian, protes malaikat oleh
Allah SWT dijawab dengan kalimat “….sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang
tidak kalian ketahui.” Jawaban ini seakan mengandung dua pengertian. Pertama,
apa yang dikhawatirkan malaikat memang benar dan Allah sudah tahu tentang hal
itu, namun tentu saja Allah tidak khawatir apalagi cemas seperti malaikat.
Kedua, ada “rahasia tertentu” dibalik penciptaan manusia yang kemudian
berkembang biak menjadi penduduk dunia ini.
Al-Baghowi, dalam tafsirnya Ma’alimut
Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil (sebagaimana diulas al-hafiz Kurniawan dalam https://uninus.ac.id/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-30/), menceritakan bahwa yang dimaksud oleh malaikat dengan
“mereka” adalah penghuni bumi sebelumnya. Allah menciptakan langit, bumi,
malaikat, dan jin. Lalu Allah menempatkan malaikat di langit dan jin di bumi. Mereka
kemudian menyebar dan menyembah Allah dalam masa yang lama di bumi. Tetapi
penyakit kedengkian dan tindakan melewati batas menjangkiti mereka. Mereka
berbuat kerusakan dan membunuh. Allah lalu mengutus satu pasukan malaikat yang
disebut “jin” karena mereka adalah penjaga surga. Pemimpin dan pemuka mereka
yang paling pandai adalah iblis.
Sepasukan malaikat yang bernama
“jin” ini turun ke bumi. Mereka mengusir bangsa jin ke lembah-lembah pegunungan
dan pulau-pulau di tengah laut. Mereka kemudian menjadi penghuni bumi. Mereka
lalu turun ke bumi. Allah memberikan keringanan ibadah untuk mereka. Allah
memberikan kekuasaan bumi, langit dunia, dan penjagaan surga. Iblis kadang
menyembah Allah di bumi, kadang di langit, dan kadang di surga. Lalu penyakit
ujub masuk ke dalam dirinya.
“Tidaklah Allah memberikan kekuasaan
ini kecuali karena aku adalah malaikat paling mulia,” kata Iblis dalam hatinya.
“(Aku ingin menjadikan) menciptakan
(khalifah) pengganti kamu (di bumi) dan mengangkatmu ke langit,” kata Allah
kepada Iblis dan pasukannya. Mendengar rencana Allah, mereka tampak tidak suka.
Mereka menjadi malaikat yang paling rendah kehambaannya. Khalifah yang dimaksud
di sini adalah Adam. Ia disebut khalifah karena ia adalah pengganti jin yang
datang sebelumnya. Ada yang menafsirkan, Adam disebut khalifah karena ia juga
akan digantikan oleh orang lain. Yang jelas, Adam merupakan khalifah Allah di
bumi untuk menegakkan ketentuan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.
“(Apakah Engkau hendak menjadikan
orang yang merusak) melalui maksiat (dan menumpahkan darah) tanpa hak
sebagaimana dilakukan oleh bangsa jin (di sana?)” Sanggahan malaikat didasarkan
pada analogi atau qiyas yang sudah ada. Tanpa analogi, dapat dipahami bahwa
mereka tidak mengetahui hal ghaib (masa depan). Adapun istilah “tasbih” dalam
Al-Qur’an, kata sahabat Ibnu Abbas RA, harus diartikan sebagai ibadah shalat.
(“Padahal, kami menyucikan nama-Mu) dengan bersuci. Ada ulama menafsirkan,
“Kami menyucikan diri kami melalui ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu.”
Sanggahan malaikat pada Surat
Al-Baqarah ayat 30 ini, kata Imam Al-Baghowi mengutip sebagian ulama tafsir,
bukan bermakna penentangan atau ujub atas amal mereka, tetapi sanggahan heran
dan mencari hikmah jawaban di balik rencana Allah itu. “(Allah berkata,
‘Sungguh, Aku) Allah (mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,’)” yaitu
kemaslahatan di dalamnya. Aku mengetahui bahwa di tengah keturunan Adam ada
dari mereka yang berbuat taat dan menyembah-Ku, yaitu para nabi, para wali, dan
para ulama.
Sebagian ulama mengatakan, “Aku
mengetahui bahwa di tengah kalian ada yang berbuat durhaka kepada-Ku, yaitu
Iblis.” Sebagian ulama lainnya, kata Imam Al-Baghowi, mengatakan, “Aku
mengetahui bahwa manusia kelak akan berdosa dan Aku mengampuni mereka.”
Dapat disaksikan dalam keseharian
penduduk dunia hingga saat ini, perilaku “membuat kerusakan dan menumpahkan
darah”, sejak anak adam periode pertama (Kabil dan Habil) masih terus
berlangsung. Sumber pokok kerusakan dan pertumpahan darah tersebut tidak lain
adalah hawa nafsu yang bercokol di dalam diri manusia, dan perangsangnya antara
lain wanita, tahta dan harta. Kiranya penduduk dunia menyadari akan hal itu
sehingga akan lebih tenang lagi dalam menjalani kehidupan di dunia dengan
pengendalian hawa nafsunya. Insya Allah “rahasia” yang Allah sembunyikan dari
para malaikat dalam penciptaan umat manusia sesungguhnya adalah “kebaikan”.
Amin.*
