Update

8/recent/ticker-posts

Media Sosial dan Kita



FokusSulawesi,  Bungku

Untuk menciptakan moralitas manusia yang tepat dalam bersosial media adalah dengan bagaimana bersikap rasionalisme terhadap ruang lingkup sosial.

Dari mana datangnya moralitas?

Tentu pertanyaan ini adalah sebuah rasa kuriositas yang besar, sebagian orang hanya mengetahui maksud dari moralitas tersebut tanpa mengenal dari mana sebenarnya kata moralitas lahir.

Dari suatu kejadian seseorang memberikan bantuan sosial kepada satu keluarga yang kurang mampu dan kemudian menyebarkan kebaikannya agar dikenal banyak orang untuk meningkatkan eksistensi dan kemasyuhran kepada siapa yang melihatnya, apakah tindakan tersebut bermoral?

Sebagai orang yang berpendidikan tentu mengatakan sebagai hak dari seseorang untuk melakukan apapun yang dia mau lantas juga tidak menyakiti siapa siapa, namun sebagian memberi padangan bahwa tindakan tersebut tampak merendahkan.

Moralitas itu luas, sejumlah tindakan adalah salah walaupun tidak menyakiti siapa–siapa.

Memahami fakta sederhana bahwa moralitas berbeda-beda di seluruh dunia, dan bahkan dalam masyarakat yang sama.

Namun dari semua fenomena yang terjadi dan bagaimana seseorang menyikapinya dengan perbuatan baik maupun buruk itu adalah sebuah moral.

Asal Usul Moralitas   

Perkembangan yang terjadi pada pertumbuhan seorang anak yang melihat bagaimana perlakuan orang dewasa dalam mengatasi masalah-masalah yang dialaminya baik benar atau salah.

Adapun yang timbul dari penemuannya sendiri namun hanya ketika mereka siap dengan akal dan pengalaman yang benar.

Dan bila anak memperoleh cukup banyak pengalaman bergiliran,berbagi, dan berkeadilan di taman bermain, (pada akhirnya) menjadi manusia yang bermoral, mampu menggunakan kapasitas rasionalnya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.



Media Sosial

Senada dengan apa yang katakan oleh Henry Samueli “Kita harus menjadi lebih pintar dalam inovasi perangkat keras dan perangkat lunak agar mendapatkan manfaat tertinggi dari Internet of Things yang sedang berkembang”.

Apa itu media sosial? Media sosial merupakan sebuah wadah interaksi pergaulan yang digunakan secara online dan memerlukan internet.

Media sosial sangat populer dan menjadi kebutuhan sebagai gaya hidup, pengguna media sosial dapat melakukan interaksi dan komunikasi tanpa adanya batasan waktu maupun jarak selama mereka terhubung dengan internet.

Namun bagaimana perkembangannya hingga masa sekarang?

Awal mula adanya media sosial dipergunakan hanya untuk berkomunikasi dan interaksi saja dengan memanfaatkan platform tertentu, dengan meningkatnya inovasi perkembangan teknologi terbaru kini media sosial telah menjadi banyak manfaat seperti lahirnya media berita, bisnis, iklan/promosi, dan lainnya.

Namun juga dibidang komunikasi dan gaya hidup mengikuti perkembangan searah dengan kemajuan teknologi yang membantu kehidupan masyarakat di era modern seperti Facebook, Twitter, Google+, Instagram, Pinterest, TikTok, dan lainnya.

Di era modern ini siapa sih yang tidak punya akun media sosial?

Tidak memiliki akun media sosial akan menjadi sebuah persoalan dengan alasan tidak bisa menceritakan perasaan dari setiap kegiatan yang dilakukan dalam keseharian seseorang kepada teman,sahabat,keluarga,atau pasangannya.

Namun hal ini dapat dilakukan oleh pengguna media sosial dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa seperti pengguna lainnya.

Apakah moralitas bisa menjadi gagasan seseorang bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah benar?

Jika yang mereka lakukan hanya untuk membagi rasa dan menceritakan ekspresi maka boleh boleh saja, namun bagaimana jika dapat menimbulkan dampak negatif dalam penilaian dari pengguna lainnya?

seperti misalkan postingan yang memicu kekerasan, pelecehan, konfllik, atau ujaran kebencian.

Maka moralitas hanya sekedar sebagai pemahaman tanpa adanya penerapan dalam berkehidupan dan berperilaku.

Dampak media sosial terhadap masyarakat awam adalah sama halnya dengan seseorang yang memberikan penilaian terhadap suatu benda yang tanpa diketahui bentuk dan cerita yang sebenarnya, maka di era sekarang pentingnya pengetahuan yang luas agar dapat melihat suatu perspektif dengan cermat dan intelek.

Fenomena yang terjadi sekarang ini penduduk Indonesia secara keseluruhan memiliki akun platform sosial media namun tidak sedikit yang salah memanfaatkannya baik dari pengguna dibawah umur maupun pengguna dewasa.

Seperti kasus yang sering terjadi penyebaran informasi dan penyampaian berita yang tidak diketahui kebenarannya atau palsu, sering disebut dengan berita hoax.

Di waktu lain bahkan ada yang menyalahgunakan fungsi dari media sosial sendiri yaitu dengan melakukan penipuan terhadap pengguna yang dangkal tentang media sosial.

Dan masih banyak sekali kasus-kasus yang terjadi dari penyalahgunaan media sosial, namun bagaimana dapat dikatakan sebagai makhluk yang bermoral.

Pada revolusi industri 4.0 atau yang lebih dikenal Fourth Industrial Revolution (4IR)  yang merupakan era industri keempat sejak revolusi industri pertama pada abad ke-18.  

Pada akhirnya, tidak hanya mengubah apa yang kita lakukan tetapi juga mengubah siapa diri kita.

Sejalan dengan apa yang dikatakan Bill Gates “Jika Menengok kembali ke tahun1800an, semua orang dimasa itu miskin.

Revolusi industri datang mendobrak keadaan ini, dan banyak negara mendapat keuntungan, namun tidak semua orang diuntungkan”.

Maka kehadiran era ini memberi dampak yang menguntungkan kepada semua orang, namun tidak semua orang memperoleh keuntungan.

Oleh karena itu, sebab dari dampak tersebut bisa muncul dari bagaimana semua orang berperilaku tentu hal ini berkaitan sepenuhnya dengan pengaruh moralitas yang baik dan benar dalam berkehidupan.

Tetapi moraliltas sendiri banyak orang yang mengartikan dengan salah.

Jika manusia bermoralitas baik maka apa yang dikatakan Bill Gates akan menjadi sebuah keuntungan untuk semua orang.

Konsep budaya terhadap perkembangan media sosial pada moralitas adalah sebuah pertentangan yang masih terjadi sampai sekarang, di mana orang berperilaku yang tidak sesuai dengan budaya pada tempatnya bersosial.

Sebagaimana budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang serta diwarisi dari generasi ke generasi, nah sedangkan perkembangan media sosial pada moralitas ialah bagaimana berperilaku dalam berinteraksi yang sesuai dengan budaya.

Konsep budaya ini tentu saja cocok dengan perkembangan media sosial yang bermoral, karena penerapan budaya akan sesuai apabila perkembangan media sosial didasarkan moralitas yang tepat.

Namun jika konsep budaya tidak dapat mengikuti perkembangan media sosial maka moralitas akan menjadi sasaran yang tidak dibenarkan.

Fenomena budaya sering terjadi seperti seorang anak berpamitan ke sekolah pada orang tua yang seharusnya bersalaman dan cium tangan.

Namun karena sering menonton aksi kekinian dari media sosial sehingga ketika berpamitan hanya mengucapkan salam saja tanpa bersalaman.

Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan media sosial terhadap moralitas.