Update

8/recent/ticker-posts

Tipikal Caleg dan Image Politik

 


Fokussuklawesi,Bungku
DINAMIKA Pemilu tahun 2024 semakin semarak dan menarik diikuti seiring tahapan pemilu mendekati penetapan Daftar Calon Tetap (DCT) sekaligus memasuki waktu pelaksanaan kampanye yaitu pekan terakhir November tahun ini. Berbagai daya dan upaya dikerahkan oleh para calon legislatif (Caleg) demi membangun image positif sekaligus menitip harap untuk meningkatkan elektabilitas diri yang berdampak pada bertambahnya pundi-pundi suara dari bilik TPS saat pungut hitung Rabu 14 Februari 2024 mendatang.


Beragam kiat dan strategi dilakukan para caleg sebagai bentuk ikhtiar insani dengan tidak menafikan doa dan ketetapan Ilahi sebagai penentu akhir kontestasi-kompetisi. Terlepas dari layak atau tidaknya cara yang dilakukan untuk bersosialisasi, hal-hal unik dengan mudah kita temui di lapangan sebagai indikator bahwa pemilu 2024 menjadi momentum penting bagi sebuah perubahan. Apakah perubahan dimaksud untuk kebaikan bangsa, negara dan agama atau perubahan tersebut terfokus untuk diri, keluarga dan kroni-kroninya, kita lihat saja nanti.Beragam media dimaksimalkan oleh para caleg demi memperkenalkan diri , sekaligus sebagai bentuk branding dan marketing politik guna memancing empati pemilih dalam mempengaruhi hak suara di hari H, di samping berharap upaya ini mampu juga berkontribusi pada peningkatan elektabilitas positif.


Mari kita jajaki beberapa karakteristik para caleg selama proses taaruf (sosialisasi) ini, secara eksplisit ada yang langsung menggambarkan keaslian jati diri seorang caleg kendatipun telah di poles dengan pencitraan yang luar biasa.


Sikap, perilaku, etika, cara, strategi hingga cara penggunaan media menjadi indikator plus minus terhadap caleg tertentu. Seperti kata bijak berkata “berkilat ikan di air, tahu kita jantan betina” dalam artian setiap cara dan sarana sosialisasi yang digunakan para caleg, tergambarkan kualitas dan terbaca kemampuannya.


Ironisnya, pasca pengumuman DCS, perilaku caleg kian memperlihatkan eksistensinya di depan publik dengan segenap kelebihan dan kekurangan masing-masing, kendati saat bersamaan publik ikut mendiskusikan perilaku para caleg yang dianggap plin plan alias hana siku serta menguraikan track record caleg dari musim ke musim.


Tipikal caleg


Berikut penulis mencolek beberapa perilaku caleg yang miskin ide, gagasan dan visi-misi. Sehingga kelayakan mereka sebagai wakil rakyat patut dipertimbangkan, dievaluasi bahkan dikaji secara matang oleh partai pengusung agar kehadiran mereka di parlemen benar-benar menjadi representatif dari masyarakat daerahnya dan ini belum terlambat.


Pertama, caleg pragmatis. Tipikal caleg ini adalah inkonsisten. Tidak ada padanya semangat militan dan fanatik karena pencalonannya sebagai caleg di ilustrasi bagaikan penumpang bis yang naik di pinggir jalan dan tidak melalui terminal pengkaderan yang resmi.


Tidak ada saham atau modal yang dikeluarkan dalam melahirkan partai, bergabung saat semua perangkat partai telah ada. Karakter caleg seperti ini, jelas tidak memiliki ruh perjuangan, pengabdian apalagi pengorbanan karena mindset sesungguhnya adalah pragmatic-oriented atau mencari aman dan nyaman dan menolak risiko alias safety player. Hal ini bisa dilihat dari beberapa personal yang maju sebagai caleg dari musim pemilu ke pemilu.


Pada pemilu tahun 2014 maju sebagai caleg dengan partai X dan pada pemilu 2019 lain lagi partainya. Sementara di pemilu tahun 2024 yang bersangkutan justru berada di partai yang berbeda lagi dari kedua partai sebelumnya dan seterusnya setiap periode pemilu bertukar bagai kutu loncat, sebab caleg sejenis ini kosong dari ideologi dan tujuan partai.


Lain hal pula dengan berapa caleg yang potensial, pada awal pendaftaran partai untuk menjadi peserta pemilu yang bersangkut menjabat sebagai pengurus. Anehnya saat pendaftaran caleg dibuka oleh KPU, yang bersangkutan…