Update

8/recent/ticker-posts

Melawan Covid 19 di Morowali, Sanitarian Juga Punya Cerita

 


Fokus Sulawesi,Morowali

Wabah yang berlangsung kurang lebih setahun lamanya, telah menorehkan kisah-kisah menarik, dramatis dan heroik dalam perjalanannya. Sepak terjang petugas kesehatan telah mengambil angle tersendiri dalam penanganan, pencegahan, pengendalian, penanganan kasus, rehabilitasi hingga peran publikasi informasi. Banyak di antara mereka yang tidak luput dari serangan virus mematikan ini. Meskipun ada yang dapat melaluinya dengan kembali sembuh dan beraktifitas seperti sedia kala. Namun demikian, tidak sedikit yang harus menyerah dan menjadi korban keganasan covid-19 ini.

Berbagai profesi bidang kesehatan telah mengambil bagian dalam memerangi covid-19. Masing-masing telah berdedikasi dalam peran masing-masing sesuai profesinya. Jika kita sebutkan garis pertahanan terakhir dalam konteks penanganan wabah ini, maka rumah sakit yang menangani pasien covid-19 adalah benteng terakhir. Banyak profesi yang mengabdikan dirinya pada sarana kesehatan ini, baik profesi bidang kesehatan maupun bidang lain sebagai penunjang pelayanan.

Profesi kesehatan yang paling kita ketahui telah berjibaku dengan covid-19 ini, melalui perawatan pasien terkonfirmasi positif adalah dokter dan perawat. Mereka ini yang paling menonjol dalam penanggulangan wabah ini. Tidak dapat dipungkiri jasa-jasa mereka yang telah berperan dengan baik, menjalani profesinya dengan dedikasi sungguh-sungguh atas dasar kemanusiaan yang memegang teguh sumpah profesinya.

Selain kedua profesi di atas, terdapat pula profesi lain yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan wabah ini. Berperan dalam memastikan ruangan dalam keadaan steril dari kuman-kuman, bakteri patogen, termasuk virus corona. Adalah sanitarian yang berperan menjamin sterilisasi lingkungan yang digunakan untuk perawatan pasien covid-19.

Di Morowali, khususnya di RSUD Morowali (RSMW), terdapat beberapa tenaga sanitarian yang telah menunjukkan dedikasi yang sangat baik. Mereka selalu menjalankan peran terakhir setelah perawatan pasien terkonfirmasi positif covid-19. Tidak perlu dipanggil dua kali, cukup dengan pesan singkat, “Pasien Covid-19 ruangan xx keluar jam (sekian) hari ini. Ruangan butuh sterilisasi”. Maka tidak sampai setengah jam, akan datang seorang “serdadu” yang menggunakan pakaian hasmat, layaknya astronot dengan alat penyemprot berisi desinfektan.

Seorang sanitarian yang paling sering melakoni perannya tersebut adalah seorang yang sabar dan sederhana dalam keseharian. Pria ini bertugas di RSMW sejak tahun 2018 sebagai tenaga sanitarian. Iwan, sapaan akrabnya, dilahirkan di Palu dan menyelesaikan pendidikannya di Poltekes Palu – Sulawesi Tengah. Penugasannya sebagai sanitarian merupakan impiannya sebagaimana jalur pendidikan kesehatan lingkungan yang telah ditempuhnya. Meskipun belum menikah, Iwan tetap menjalin komunikasi yang baik dengan siapa saja, semua kalangan. Tidak heran Iwan disenangi banyak temannya baik di RSMW maupun di Morowali pada umumnya.



Profesi sanitarian dalam masa pandemi ini juga merupakan profesi yang sangat beresiko terpapar covid-19. Bagaimana tidak, di saat orang-orang menghindari ruangan bekas perawatan pasien covid-19, justru sanitarian harus masuk ke dalam untuk melakukan desinfeksi ruangan tersebut dan benda-benda yang ada di dalamnya. “Di balik resiko tersebut, dedikasi yang diberikan sebagai sanitarian, merupakan kepuasan tersendiri yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata”. Begitu ungkapan Iwan, sesaat setelah melakukan desinfeksi di ruangan isolasi RSMW.

Irwansyah, AMKL adalah Ahli Madya Kesehatan Lingkungan, bertugas dalam Tim Percepatan Penanganan Covid-19 RSMW. Memiliki tinggi badan kurang lebih 180 cm dan pernah hampir menempuh pendidikan kepolisian. Dengan seragam layaknya astronot, memegang semprotan desinfektan, kesan “serdadu penumpas” covid-19 sangat pas dilekatkan. Meskipun masih berstaatus pegawai kontrak di RSMW, dia tetap semangat menjalani profesinya.