Update

8/recent/ticker-posts

MULAITOE DAN BATARA GURU

MULAITOE DAN BATARA GURU
oleh.Nawawi Sang Kilat.

FOKUS SULAWESI
MULAITOE dan dalam bahasa Bugis disebut MULATAUE. Berdasarkan kalimat ini bila berbicara tentang Luwu melahirkan tanya, Siapakah manusia pertama di TANALUWU ??? kadang orang beranggapan bahwa BATARA GURU lah adalah manusia pertama di tanah Luwu atau kadang dianggap sebagai To Manurung, anggapan ini adalah sangatlah keliru, karena Batara guru tidak datang dalam sebuah daerah hampa, dalam MULAITOE diceritakan bahwa kedatangan Batara Guru di Tana Luwo yang telah mengajarkan cara bercocok tanam pada masyarakat di sekitar BILASSALAMOA (Kebun Dewata) yaitu antara Gunung Lampenai dan Ussu. Disebutkan bahwa mengajarkan masyarakat becocok tanam, ini berarti sudah ada masyarakat adat sebelum Batara guru datang.

Lalu siapakah masyarakat adat itu ??? Masyarakat adat itu adalah suku suku disekitar.Bilassalamoa yg terdiri atas Towotu,Towuti,Topadoe,
Topamona,Tolaki,
Tobajoo dan lainnya
Itulah sebabnya sehingga manusia towotu,towuti,topadoe,tolaki,topamona,tobajoo tdk menyebut dirinya sebagai keturunan Batara Guru atau ,Keturunan Sawerigading
 Sebelum Batara guru datang di tanaluwu sudah ada struktur adat Macoa Bawalipu, serta struktur adat suku suku yg lain.
Penduduk asli Tana Luwu diatas hidup berdampingan dgn suku pendatang yg dimulai dari Batara Guru. 
Dan selanjutnya setelah Luwu runtuh dan Datunya saat itu adalah Datu Anakaji hijrah ke Lelewaru Sulawesi Tenggara sekarang.

Dalam perkembangan selanjutnya datanglah suku Bugis di Luwu melalui Malili dan menetap disekitar Cerrea atau Cerekeng Ongkona dan sekitar Ussu pada Tahun 1450 M.
Maka, jika penduduk yg belakangan ini juga mengklaim bahwa mereka keturunan Sawerigading, maka juga adalah hal yg sangat wajar, krn telah terjadi kawin mawin didalamnya. Saat itu kawin mawin antara penduduk lokal utamanya Wotu dan Bugis sangat berlangsung cepat sehingga orang Wotu yang awalnya yg kesehariannya berbahasa Wotu menjadi berbahasa Wotu dan berbahasa Bugis sampai sekarang ,utamanya sekarang kita temui di Lepa-lepa, Burau, Bungadidi dan sekitarnya.

Khusus ToWotu adalah salah satu suku di Luwu Timur yang menerima dengan tangan terbuka To ugie atau Bugis di Ale Luwu. Sehingga daru zaman baheula sampai kiwari orang Wotu itu dalam keseharian nya berkomunikasi dalam dua bahasa yaitu Wotu dan Bugis dan dapat dilihat diantara banyak suku di Ale Luwu To Wotu lah yg sangat fasih berbahasa Bugis.

Kenapa ada anggapan bahwa bahasa bugis adalah bahasa To Wara atau To Ware, anggapan ini juga tidak ada salahnya bila kita melihat sejarah awal WARA atau WARE.

WARA atau WARE ( Bugis) dan bahasa Wotu WARA secara harfiah adalah sumber cahaya biasanya Api yg warna kehijauan, pusat pemerintahan Kedatuan Luwu disebut pada awalnya adala WARA atau pusat pemerintahan atau pusat cahaya.
Penggunaan kalimat WARA ini di mulai berdirinya Kedatuan Luwu di Wotu lama sampai abad ke XVI dan tetap dipertahankan sampai sekarang di Palopo atau WARA ( sekarang berbentuk Kecamatan).

Lalu kenapa disebut WARA menjadi WARE ? Penggunaan WARE ini karena pengaruh Bugis yg sejak di Wotu merupakan bahasa pengantar yg mudah di mengeri semua penduduk di pusat pemerintahan luwu, dibandingkan misalnya bahasa Wotu yang sangat kaku dan sulit di mengerti dan kurang komunikatif. Disisi lain penulis penulis lontara umumnya bukan orang Luwu tetapi diluar Luwu yg malah sama sekali tidak pernah ke Luwu.

Di Luwu cerita tentang LA GALIGO adalah cerita tutur yang terpelihara baik, sementara penulis Lagaligo menulis Lagaligo atas cerita tutur To Luwu. Maka jika kita jumpai misalnya dalam literatur ada disebut WARE adalah hal yang lasim padahal sejatinya adalah WARA .

Sanusi Daeng Matata menyebut WARE adalah salah satu Suku yang menopang berdirinya Luwu, jujur saya tidak sependapat denga Sanusi Daeng Matata, karena jika kita pernah ke tana Luwu anda tidak akan ketemu dimanapun yang disebut SUKU WARE.

Demikian sekelumit dari mulaitoe
Semoga punya arti.
KP3 (Komunitas Pea Pogalu Palu)
NSK 10032023.